Selasa, 12 Juli 2011

[Night Topic] ‘Pesta’ Perceraian di Negri Sakura

“Loh, gw salah baca ya ? kok pesta perceraian ?”,”Ini gw yang uda ngantuk, atau hp/laptop/komputer gw yang error ?”, atau “Yang bener ! Masa perceraian ada ‘pesta’nya ? ngaco nih !”. Mungkin ada diantara ketiga kalimat itu, yang melintas di pikiran kalian saat membaca judul artikel ini (atau nggak ada sama sekali ? hehe…). Tenang, kalian nggak salah liat atau salah baca. Karena di negeri Sakura (Jepang) ‘pesta’ perceraian itu memang ada.

Dan yang lebih anehnya lagi, semakin hari, ‘pesta’ perceraian di Jepang itu, bukan semakin menurun, tapi semakin meningkat ! ini karena pesta percaraian itu sendiri dianggap sangat sakral oleh orang Jepang. Kalian tentu tau-kan, gimana sakralnya pesta pernikahan ? Nah ! Di Jepang itu, sakralnya ‘pesta’ perceraian, sama seperti sakralnya pesta pernikahan.

Orang Jepang menyebut ‘pesta’ perceraian ini dengan nama ‘Goshugi’, dan pasangan yang bercerai itu akan melewati prosesi unik yang menandai kehancuran pernikahan mereka.

Awal tahun ini saja, sebanyak 15 pasangan muda usia 20-an sampai 30-an tahun melangsungkan Goshugi di sebuah garasi yang telah berhasil disulap menjadi rumah perceraian, di daerah Asakusa, Tokyo.

Berbalut busana formal, mereka datang membawa amplop hadiah berisi uang bertulis ‘Goshugi’. Setiap pasangan datang terpisah dengan naik kendaraan semacam becak. Ini berarti, ada 30 becak yang siap mengantar muda-mudi ini menuju tempat ‘pelaminan’ untuk ‘pesta’ perceraian mereka.

Salah seorang wanita, yang mewakili para istri, membuka ‘pesta’ perceraian ini dengan kalimat sambutan yang sederhana, “Jujur, aku sulit mengatakan perasaaanku. Tetapi aku masih ingin berteman dengannya, bahkan setelah perceraian ini,” katanya seperti dikutip Seattle Times.

Disaksikan pemimpin ‘pesta’ perceraian, Hiroki Terai -yang ternyata adalah salah satu orang yang merintis usaha ‘pesta’ perceraian di Jepang sejak 1 tahun silam-, setiap pasangan kemudian memegang palu bersama untuk menghancurkan cincin pernikahan mereka. Palu yang digunakan berbentuk katak sebagai simbol perubahan budaya di Jepang.

Usai prosesi penghancuran cincin, setiap pasangan mengungkap perasaan masing-masing. Ada yang mengaku lega setelah berdebat soal perceraian selama setahun. Seorang pria juga terdengar berkata sambil tersenyum, “Aku merasa lega karena telah menghancurkan cincin itu”.

“Aku menganggap upacara ini sebagai titik balik untuk membesarkan dua orang anakku sebagai orangtua tunggal dan memulai hidup baru,” kata seorang wanita 40 tahun yang mengikuti upacara ini tepat di hari ulang tahun pernikahannya yang ke-10.

Goshugi tengah menjadi tren sejumlah pasangan muda di Jepang. Sejak April 2010, sebanyak 54 pasangan telah berpartisipasi. Antrean panjang pun mengular hingga akhir Januari 2011. Dan, Terai juga semakin terkenal sebagai pemimpin upacara perceraian.

Kabar baiknya, banyak pasangan justru tidak jadi bercerai setelah mengikuti ‘pesta’ ini. “Sekitar 10 persen pasangan yang ikut upacara perceraian memutuskan untuk tidak jadi berpisah, karena mendapat dukungan teman-teman yang hadir,” kata Terai.

Berbagai tema perceraian memang sedang menjadi hit di kalangan masyakarat Jepang. Buku ‘Rikon o Purasu ni Suru Rikon Mana’ (sopan santun perceraian untuk membuat perceraian menjadi hal yang baik) karya dosen Universitas Kokushikan yang memiliki nama Chiyoko Anju ini sangat laku di penjualan online.

Isi dari buku itu meliputi topik seperti cara mengadakan jamuan perceraian dan bagaimana memberitahu keluarga dan rekan-rekan tentang perceraian. Salah satu inspirasi yang berasal dari buku ini menyebut saling memberi kado pada mantan dan rekan pasangan saat bercerai.

“Mungkin saat ini perceraian tidak lagi dianggap sebagai hal yang tabu, tapi aku pikir masih diperlukan pedoman tentang bagaimana melakukan perceraian,” katanya.

Data Departemen Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang, menunjukkan, angka perceraian di Jepang tahun lalu mencapai 253.353 kasus. Ini artinya, terjadi satu perceraian setiap dua menit empat detik.

Profesor Masahiro Yamada dari Universitas Chuo, mengungkapkan, saat ini makin banyak orang yang melihat perceraian sebagai salah satu ladang bisnis.

“Bisnis perceraian mulai diakui di luar negeri,” katanya. “Sama seperti ‘konkatsu’ (acara menemukan pasangan perkawinan) yang menyebar dengan cepat dan wanita menjadi lebih terbuka dalam menemukan pasangan perkawinannya. Perceraian mungkin akan dianggap lebih positif dan menciptakan tren jenis tertentu.”

‘Pesta’ perceraian ini sendiri, memakan biaya 55ribu Yen atau sekitar 6 Juta rupiah per pasangan.

Mungkin nggak ya, kalau ‘pesta’ perceraian ini, akan menjadi tren juga di negara kita ?

Jadi, bagaimana pendapat kalian tentang ‘pesta’ perceraian ini ? Silahkan berikan komentar.

Credits: vivanews.com
Editing by nurwulan123@ASIANFANSCLUB

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar